Saturday, December 25, 2010

Hiv/aids


Aquired Immune Defficiency Syndrome (AIDS) adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

Menurut The Centers for Disease Control USA (CDC) (2004), AIDS pada orang dewasa atau remaja umur 13 tahun atau lebih adalah terdapatnya satu dari 29 keadaan yang menunjukkan imunosupresi berat yang berhubungan dengan infeksi HIV, seperti Pneumocystis carinii pneumonia (PCP), suatu infeksi paru yang sangat jarang terjadi pada penderita yang tidak terinfeksi HIV. Kebanyakan keadaan-keadaan yang berkaitan dengan definisi AIDS mencakup infeksi oportunistik (OI) yang jarang menimbulkan bahaya pada orang yang sehat. Diagnosis AIDS juga diberikan kepada penderita infeksi HIV dengan sel T CD4+ kurang dari 200/ml darah. Untuk anak-anak di bawah 13 tahun, definisi AIDS sama dengan untuk orang dewasa dan remaja, kecuali pneumonitis interstisial limfoid dan infeksi bakteri berulang yang juga dimasukkan dalam daftar keadaan-keadaan dalam definisi AIDS.

1. Klasifikasi Infeksi HIV
Jenis pembagian yang pertama membagi gejala-gejala HIV menjadi 3 stadium, yaitu: infeksi akut, kronik, dan AIDS (Gunung, 2003; WHO, 2007)

  1. Infeksi akut merupakan stadium paling dini dan singkat. Tidak semua penderita menunjukkan gejala-gejala, tapi kebanyakan menunjukkan gejala-gejala seperti flu selama 3-6 minggu setelah infeksi. Gejala-gejalanya sama dengan flu atau mononukleosis: panas dan rasa lelah yang berlangsung selama 1-2 minggu. Bisa disertai ataupun tidak gejala-gejala seperti: bisul dengan bercak kemerahan, biasanya pada tubuh bagian atas, tidak gatal; sakit kepala; sakit pada otot-otot, sakit tenggorokan; pembengkaan kelenjar; diare; mual-mual; muntah-muntah.

  1. Infeksi HIV kronik. Tubuh memberikan perlawanan yang hebat terhadap virus HIV. Pada akhir perlawanan ini tubuh seolah-olah melakukan gencatan senjata dengan virus.  Infeksi kronik ini mulai 3-6 minggu setelah infeksi. Pada stadium ini tidak menunjukkan gejala apapun, seperti orang sehat. Pada umumnya, pada kebanyakan penderita, stadium ini berlangsung sampai 10 tahun. Walaupun tidak menunjukkan gejala-gejala, akan tetapi sistem imun berangsur-angsur menurun. Pada orang normal, didapatkan sel CD4 sebesar 450-1200 sel per ml. Bila sel CD4 menurun sampai 200 atau kurang, maka penderita akan masuk dalam stadium AIDS
hiv2(MINE-AUS-NET)
Gambar sel yang tereserang hiv/aids        Gambar struktur hiv/aids

2. Cara penularan HIV di Indonesia
a. Penggunaan alat suntik yang tak steril secara bersama, terutama pada pengguna napza suntik
b. Hubungan seks dengan banyak dan berganti pasangan tanpa menggunakan kondom
c. Transfusi Darah
d. Jarum suntik, tato, tindik dll
e. Dari Ibu ke bayi:
Saat dikandung
Saat melahirkan
Bila disusui

3.      AIDS Tidak Menular Melalui

        duduk berdampingan

        menggunakan alat makan yang sama

        mandi dan menggunakan toilet yang sama

        bersalaman dan berpelukan

        menggunakan alat olahraga bersama

        Nyamuk tidak menularkan AIDS

4. Gejala-gejala AIDS.
AIDS bukan merupakan penyakit tersendiri, melainkan sekumpulan gejala-gejala tergantung infeksi oportunistik yang menyertai infeksi HIV tersebut. Oleh karena sistem imun telah rusak, gejala-gejala penyakit menjadi khas tergantung jenis infeksi yang menyertainya. Obat diberikan bila sel T (CD4) turun sangat rendah untuk mencegah terjadinya infeksi. Kadang-kadang penderita tidak segera berobat sampai terjadinya AIDS. Gejala-gejala yang bisa dijumpai adalah:
selalu merasa lelah; pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha; panas yang berlangsung lebih dari 10 hari; keringat malam; penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya; bercak keunguan pada kulit yang tidak hilang-hilang; pernafasan memendek; diare berat, berlangsung lama; infeksi jamur (candida) pada mulut, tenggorokan, atau vagina; mudah memar/perdarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.

5. Infeksi oportunistik dan kelainan lain yang dapat dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV adalah :

Infeksi bakteri dan mikobakteria
ž     Mycobacterium avium complex (MAC, MAI)
ž     Salmonellosis
ž     Syphilis and Neuroshyphilis
ž     Turberculosis (TB)
ž     Bacillary angiomatosis (cat scratch disease)

Infeksi jamur (fungi)
ž     Aspergillosis
ž     Candidiasis (thrush, yeast infection)
ž     Coccidioidomycosis
ž     Cryptococcal meningitis
ž     Histoplasmosis

Infeksi protozoa
ž     Cryptosporidiosis
ž     Isosporiasis
ž     Microsporidiosis
ž     Pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
ž     Toxoplasmosis

Infeksi virus
ž     Cytomegalovirus (CMV)
ž     Hepatitis
ž     Herpes simplex (HSV, genital herpes)
ž     Herpes zoster (HZV, shingles)
ž     Human papiloma virus (HPV, genital warts, cervical cancer)
ž     Molluscum contagiosum
ž     Oral Hairy Leukoplakia (OHL)
ž     Progressive Multifocal Leukoencephalopathy (PML)

Keganasan (kanker)
ž     Kaposi's sarcoma
ž     Lymphoma
        Systemic Non-Hodgkin's Lymphoma (NHL)
        Primary CNS Lymphoma
Kelainan neurologik
ž     AIDS Dementia Complex (ADC)
ž     Peripheral Neuropathy

Komplikasi dan kelainan lainnya
ž     Ulkus Aptosa
ž     Malabsorpsi

6. Replikasi virus hiv/aids
  1. Pelekatan (Attachment): HIV melekat pada sebuah sel (sel CD4).
  2. Peleburan (Fusion): HIV memasukkan bahan genetik (RNA, ribonucleic acid) ke dalam sel bersama beberapa enzimnya (protein) seperti reverse transcriptase, HIV protease (HIV protease) dan integrase.
  3. Bahan genetik HIV (RNA) diubah menjadi bahan genetik sel (DNA) untuk membuat turunan DNA. Langkah ini menggunakan enzim reverse transcriptase.
  4. Penggabungan (Integration): Turunan DNA ini masuk ke dalam inti yang mengandung bahan genetik sel dan bergabung dengan bahan genetik sel tersebut. Dalam langkah ini dipergunakan enzim integrase.
  5. Pembacaan dan penyalinan (transcription & translation): Setelah penggabungan DNA virus dengan DNA sel, virus mengambil alih tugas sel, berubah menjadi pabrik penghasil virus.
  6. DNA virus membentuk cetakan yang diperlukan untuk membuat turunannya. Cetakan ini meliputi bahan genetik dan perintah membuat protein virus (genom virus).
  7. Genom virus membentuk kapsid, lalu membentuk tonjolan pada dinding sel dan melepaskan diri. Virus baru ini mengalami maturasi, memotong-motong DNAnya menjadi virus-virus baru yang siap menginfeksi sel-sel lainnya. Untuk memotong DNA virus tersebut dipergunakan enzim protease

Kesimpulan

1. Anda bisa melindungi diri anda dari AIDS
2. Siapa saja bisa terkena AIDS, kalau mereka mempunyai perilaku berisiko.
3. Penularan HIV hanya lewat kontak cairan darah dan kelamin, dan bukan hanya melalui hubungan seks
4. Hanya hasil Tes HIV  yang dapat memastikan bahwa seorang telah tertular atau tidak
5. Diskriminasi melanggar HAM dan bahkan memperburuk penanggulangan HIV di masyarakat

Daftar pustaka

  1. azwar A, 1996. pengantar  kesehatan manusia, binarupa aksara:Jakarta.
  2.  buunner & suddarth, 2002 keperawatan medikal bedah  edisi 8. ECG. jakarta.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

kejang demam

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturun...